Mengenal Kopi Luwak, Kopi Termahal di Dunia yang Berkualitas

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Kopi luwak merupakan minuman yang berasal dari kotoran hewan luwak yang dibersihkan. Dianggap memiliki cita rasa yang unik karena telah melalui proses pencernaan luwak terlebih dahulu. Tak heran menjadi kopi termahal di dunia. 

Beberapa orang yang mengetahui proses dari awal bagaimana proses pengolahannya mungkin merasa jijik dan enggan untuk mengonsumsinya. Walaupun begitu, Guinness Book of Records mencatat bahwa kopi luwak ini sebagai “The 1st Excellent & Most Expensive Coffee in the World”. 

Beberapa tempat wisata cukup terkenal seperti Bandung dan Bali membuka untuk wisatawan melihat proses pengolahan serta penangkaran kopi luwak baik wisatawan lokal maupun mancanegara. 

 

Sejarah Kopi Luwak

Kopi ini muncul sejak penjajahan belanda. Pada abad ke-18 awal, Belanda membuka perkebunan tanaman komersial di koloninya Hindia Belanda terutama di pulau Jawa dan Sumatera. Seperti yang kita tahu bahwa Bangsa Belanda membawa kopi arabika dari Yaman untuk ditanam di Indonesia. 

Penduduk pribumi dijadikan sebagai pekerja dengan sistem “kerja paksa”. Bahkan Belanda melarang pekerja  pribumi di perkebunan tersebut memetik buah kopi untuk dikonsumsi pribadi, padahal mereka ingin bisa menikmati kopi yang terkenal itu. 

Penduduk pribumi tidak sengaja menemukan luwak yang hanya memakan daging buah kopi saja, sedangkan bijinya masih tetap utuh. Karena penasaran, akhirnya penduduk lokal mengambil kotoran luwak tersebut untuk diolah. Tak disangka bahwa kenikmatan dari kopi  ini memiliki cita rasa yang luar biasa. 

Bangsa belanda akhirnya menyadarinya sehingga kopi ini menjadi kegemaran baru bagi Belanda. Karena kelangkaan dan proses yang langka dan tidak lazim akhirnya kopi luak menjadi kopi termahal di dunia sejak zaman kolonel. 

 

Mengenal Sedikit Tentang Luwak

rasa kopi luwak

Kopi luwak memiliki nama ilmiah Paradoxurus hermaphroditus yang merupakan hewan karnivora yang termasuk kedalam mamalia kecil dari keluarga musang.  Walaupun hewan ini termasuk karnivora, namun dihabitat alaminya lebih menyukai buah-buahan sehingga bisa dikatakan sebagai hewan omnivora atau pemakan segalanya.

 

Hewan ini banyak ditemukan dan menyukai sekitaran daerah perkebunan dan daerah pemukiman manusia. Hewan yang aktif dimalam hari ini termasuk hewan penyendiri untuk menandai daerah mereka. Luwak akan bersembunyi ketika ada manusia dan hewan lain datang, sehingga cukup sulit untuk bisa menemukan luwak. 

Luwak senang sekali mencari buah-buahan yang berkualitas termasuk buah kopi sebagai makanannya. Indra penciumannya yang peka, membuatnya bisa memilih buah kopi yang benar-benar matang, kemudian biji kopi yang terlindungi dengan kulit yang keras dan tidak dapat tercerna akan keluar bersama kotorannya. 

 

Kontroversi dan Isu Eksploitasi Hewan

 

cara mengolah kopi luwak liar
 

Kelayakan konsumsi diragukan

Dikarenakan berasal dari kotoran hewan luwak, sehingga kebersihan untuk dikonsumsi pun banyak dipertanyakan oleh banyak orang. Kotoran dianggap sumber tumbuhnya mikroba berbahaya. 

Namun sebenarnya bahwa keamanan dan kesehatan untuk dikonsumsi tergantung dari bagaimana pengolahan biji kopi dilakukan. 

Misalnya proses pencucian dan penjemuran jika dilakukan dengan cara yang salah mungkin akan berbahaya untuk dikonsumsi karena masih terdapat mikroba yang berbahaya didalamnya. Begitupun sebaliknya jika dilakukan dengan proses pengolahan yang benar maka aman untuk dikonsumsi 

Dianggap mengekploitasi Hewan
Luwak dipaksa memakan kopi untuk diambil kotorannya dan masyarakat beranggapan bahwa hal tersebut merupakan penyiksaan atau eksploitasi bagi hewan luwak. Pemerintah menanggapi bahwa hal ini seperti halnya pada sapi dimana diperah susunya. 

Para penangkar juga masih memberikan variasi pakan lain selain buah kopi. Jikalaupun mati mungkin, produsen akan merugi karena luwak memang sangat langka untuk ditemukan. 

Isu-isu yang muncul memang ditujukan kebanyakan terkait kedua hal diatas yakni kesehatan dan kesejahteraan hewan. Beberapa produsen memilih menggunakan luwak liar untuk menanggapi kontroversi ini dan beberapa produsen memperbaiki sistem penangkarannya sehingga hewan tidak merasa di eksploitasi. 

Apa bedanya kopi luwak liar dengan kopi luak hasil penangkaran?
  • Biji kopi luwak liar memiliki warna coklat muda kekuningan dan berwarna coklat muda pucat untuk biji dari hasil penangkaran. Perbedaan warna hanya bisa dilihat ketika masih berbentuk green bean karena setelah di roasting, perbedaan warna tidak bisa dilihat karena sudah berubah menjadi kecoklatan.
  • Rasa dari kopi luwak liar terasa lebih halus daripada kopi luwak hasil penangkaran.  Beberapa orang bahkan merasa mual ketika meminum kopi luwak dari hasil penangkaran.
  • Pola makan untuk luwak liar menjadikan buah kopinya sebagai cemilan sedangkan di penangkaran buah kopi dijadikan makaan yang selalu diberikan.
  • Luwak liar memiliki kemampuan untuk memilih kopi yang sudah matang dan berkualitas dengan sendirinya, berbeda dengan di penangkaran dimana makanan mereka sudah disediakan oleh manusia. 

     

Bagaimana proses produkasinya?

produsen kopi luwak
  1. Menyeleksi buah kopi yang berkualitas dan buah tersebut dicuci dan dibersihkan untuk diberikan kepada luwak.
  2. Buah kopi yang diberikan masih akan diseleksi lagi oleh luwak itu sendiri karena luwak memiliki indera penciuman yang baik dan bisa memilih buah kopi terbaik untuk dimakan.
  3. Tunggu hingga luwak mengeluarkan feses. Biasanya pengambilan kotoran dilakukan di pagi hari.
  4. Kotoran yang terdapat biji kopi dikumpulkan dan dibersihkan melalui air yang mengalir. Selanjutnya jemur biji kopi tersebut hingga kering. Biji kopi ini masih memiliki lapisan tanduk sehingga terdapat proses pengolahan lanjutan.
  5. Biji kopi yang sudah melalui proses pencucian dan pengeringan diolah kembali dengan proses metode basah.  Pengolahan basah ini bisa dilakukan seperti pada kopi arabika gayo

     

Karakter dan Keistimewaan

Keistimewaan dari kopi ini adalah rendah kafein, rendah kandungan kadar asam, rendah lemak, dan rasanya tidak terlalu pahit. Walaupun mengonsumsi dengan takaran besar pun tidak akan mengganggu jantung dan lambung. 

Biji kopi yang terfermentasi secara matang dan sempurna, memiliki citra rasa cokelat tipis. Rasa cokelat ini melekat kuat di lidah dan menempel lebih lama serta memiliki after taste yang luar biasa. 

 

Apakah Kopi Luwak Halal?

Secara umum, ajaran islam mengajarkan pelarangan pengonsumsian segala jenis kotoran makhluk hidup seperti yang keluar melalui mulut, saluran kencing, maupun pencernaan. Berbeda untuk kasus kopi luwak dimana MUI mengeluarkan fatwa bahwa kopi ini halal untuk dikonsumsi. 

MUI dengan fatwa nomor 7 tahun 2010, setuju bahwa minuman yang berasal dari hewan ini termasuk halal. Hal ini ditetapkan atas pertimbangan berdasarkan sumber Al-Quran, Hadist, Ilmu fiqih, serta penilitian ilmiah. 

Bagian kopi yang dimakan dan dicerna oleh luwak bukanlah biji, melainkan kulit yang berada pada lapisan terluar serta biji masih terbungkus kulit tanduk dan bisa tumbuh apabila ditanam kembali. Menurut pakar, sistem pemcernaan dari luwak termasuk sederhana, biji buah-buahan tidak dapat hancur di dalam perutnya. 

Kopi ini termasuk dalam kategori muttanajjis (barang terkena najis) dan bukanlah najis. Sehingga biji kopi yang disucikan dan dibersihkan dari kotorannya dengan baik, benda tersebut pada hakikatnya kembali menjadi suci alias halal untuk dikonsumsi. 

Harga dari kopi luwak di Indonesia bisa mencapai Rp. 1.000.000 per kilonya dan Rp. 70.000 per cangkirnya. Berbeda di Amerika yang harganya antara 1-10 juta perkilonya. 

Daerah penghasil kopi luwak di Indonesia antara lain Gayo (Aceh), Sidikalang (Sumatera Utara), Pagar Alam (Sumatera Selatan), Lampung, Garut (Jawa Barat), Toraja (Sulawesi Selatan), Kintamani (Bali).

Join the Conversation

  1. Avatar

1 Comment

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *