Kopi Lintong, Kopi dari Sumatera Utara yang Mendunia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Kopi Lintong merupakan salah satu kopi di Indonesia yang mendunia, berasal dari Sumatera Utara tepatnya di Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara. Termasuk ke jenis kopi arabika. 

Seperti halnya jenis kopi arabika lainnya, kopi ini ditanam pada ketinggian lebih dari 1000 mdpl dengan curah hujan, suhu yang baik di pegunungan di kabupaten Humbahas, Sumatera Utara. 

Kebanyakan kopi Indonesia yang mendunia berasal dari Pulau Sumatera seperti Kopi Toraja, Kopi Lintong, Kopi Mandailing dan lainnya. Cita rasa yang khas menjadikan kopi ini banyak dicari oleh para pecinta kopi atau coffee hunter. 

 

Sejarah Kopi Lintong

Pada tahun 1750 pertama kali jenis kopi ini didatangkan oleh VOC, sebagai salah satu komoditas kopi yang ditanam di Indonesia yang bertujuan untuk dijual ke luar negeri.  Dan pertama kali pada tahun 1888 jenis kopi ini ditanam di pegunungan Bukit Barisan dekat Danau Toba. Pada masa itu, lokasi penanaman terbesar berada di Sumatera Utara di kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan. 

Nama kopi lintong diambil berdasarkan daerah tanamnya. Bukan varietas kopi tetapi sebuah merek dagang di perdagangan internasional untuk kopi yang berasal dari Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. 

Karena kualitas yang cukup bagus sehingga menjadi pusat perhatian bagi beberapa negara seperti Belanda, Jerman, Amerika, Rusia. Dan beberapa negara di Asia seperti Jepang dan Korea. Setelah suksesnya kopi ini ditanam di Sumatera utara sehingga menambah varian dari jenis kopi ini seperti kopi Sidikalang dan kopi Mandailing. 

 

Karakteristik dan Rasa dari Kopi Lintong

Rasa dari kopi lintong ini dikenal memiliki rasa yang kental namun tetap lembut serta aromanya yang wangi dan memiliki rasa asam yang khas. Kopi ini juga memiliki rasa yang spicy, herbal, rempah, dan kacang atau cokelat. 

 

Proses Pengolahan

Mengenai proses pengolahannya, kebanyakan menggunakan metode giling basah (wet Hulling) dimana melibatkan dua kali dalam proses pengeringan. 

Setelah buah kopi dipanen, kulit terluar kopi akan dikupas menggunakan mesin pulping dan dikeringkan dengan sinar matahari sampai dengan kelembapan kopi mencapai 35%-40%. Pengeringan ini bertujuan untuk memisahkan kulit tanduk dan kulit ari dalam kopi. 

Proses terakhir adalah melakukan pengeringan kembali dengan menjemurkan pada sinar matahari sampai mencapai kelembapan 12-13%. Biji kopi yang dihasilkan ini disebut green bean yang sudah siap untuk di sortir, grading, dan di eksport. Kopi yang dihasilkan adalah kopi gelap berwarna hijau opal dengan kulit silver yang melekat pada kopi. 

Varietas lokal untuk kopi lintong ini dari varietas jenis arabika seperti siragar utang, Lini S 795, USDA 765, Lasuna, Garunggang. 

Untuk varietas sigarar utang diperkirakan hasil perkawinan silang alam antara varietas typica (lasuna) dengan Catimor. Varietas ini telah diakui secara nasional melalui surat keputusan Mentan dan telah dipatenkan juga melalui penerbitan sertifikat Indikasi Geografis dari Kemenkumham RI. 

Harga dari kopi lintong untuk roasted Bean/bubuk sekitar 65rb/pack tergantung size kemasannya (250g, 500g, 1kg).  Untuk harga green bean berkisar di angka 105rb perkilo. Harga tersebut untuk Grade speciality yang dilihat dari salah satu produk yang beredar.

Join the Conversation

  1. Avatar

2 Comments

  1. Saya akhir akhir ini jadi menyukai kopi dan ingin sekali merasakan jenis jenis kopi lainnya yanng ada dan tersebar di wilayah Indonesia ini… Baru pertama merasakan jadi ketagihan untuk mencoba yang lainnya

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *